BANJAR — Kampus Banjar mencatat pencapaian signifikan dalam dunia penelitian dan pengembangan teknologi berkelanjutan. Tim peneliti yang terdiri dari dosen dan mahasiswa berhasil mengembangkan inovasi bioremediasi terpadu untuk mengatasi permasalahan pencemaran air tanah yang kerap menimpa wilayah Banjar dan sekitarnya. Penelitian yang dimulai sejak tahun 2024 ini kini telah memasuki fase implementasi lapangan dan menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan.
Bioremediasi merupakan teknologi yang memanfaatkan organisme hidup, khususnya mikroorganisme dan bakteri, untuk menghilangkan atau mengurangi polutan dari lingkungan. Inovasi yang dikembangkan oleh tim Kampus Banjar ini dirancang khusus untuk mengatasi kandungan logam berat dan zat kimia berbahaya dalam air tanah, yang menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat lokal.
Latar Belakang Penelitian dan Identifikasi Masalah
Wilayah Banjar dan sekitarnya menghadapi persoalan lingkungan yang kompleks. Aktivitas pertambangan, industri tekstil, dan pertanian intensif selama puluhan tahun telah menyebabkan kontaminasi signifikan pada sumber air tanah. Data awal dari riset Kampus Banjar menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen sumur gali milik masyarakat setempat mengandung konsentrasi besi (Fe) dan mangan (Mn) yang melebihi standar baku mutu air minum sesuai peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2021.
“Kami memulai riset ini karena melihat langsung dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Banjar,” ujar Dr. Hendri Sutrisna, Ketua Tim Peneliti dan Dosen Senior Departemen Teknik Lingkungan Kampus Banjar, dalam wawancara eksklusif pada Selasa, 3 April 2026. “Air tanah yang tercemar bukan hanya menyebabkan masalah kesehatan, tetapi juga mengancam keberlanjutan pertanian dan ekonomi lokal. Kami merasa ada tanggung jawab akademis untuk memberikan solusi konkret.”
Tim peneliti yang dipimpin Dr. Sutrisna terdiri dari lima dosen senior, tiga peneliti postdoktoral, dan lebih dari dua puluh mahasiswa program sarjana dan pascasarjana. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem penelitian yang dinamis, di mana mahasiswa tidak hanya belajar teori tetapi juga terlibat langsung dalam pengembangan solusi praktis.
Metodologi dan Pendekatan Inovatif
Keunikan penelitian Kampus Banjar terletak pada pendekatan holistik dan berbasis lokal. Tim tidak hanya mengembangkan teknologi abstrak, melainkan merancang sistem yang dapat diterapkan dengan biaya terjangkau oleh masyarakat Banjar yang mayoritas adalah petani dan pengusaha kecil.
“Kami melakukan isolasi dan karakterisasi bakteri lokal dari tanah Banjar yang memiliki kemampuan natural untuk mengakumulasi dan mendegradasi polutan,” jelas Ir. Siti Nurhaliza, M.Sc., Dosen Pendamping yang menangani aspek mikrobiologi pada penelitian ini. “Proses ini memakan waktu hampir dua tahun, tetapi hasilnya luar biasa. Kami berhasil mengidentifikasi lima strain bakteri yang sangat efektif, dan yang paling menarik adalah organisme-organisme ini sudah beradaptasi dengan kondisi lokal.”
Teknologi yang dikembangkan melibatkan konstruksi bioreaktor skala semi-pilot yang memanfaatkan konsep wetland buatan dan biofiltration. Sistem ini dirancang untuk mengolah air tanah yang tercemar dengan melewatkannya melalui media biologis yang kaya akan mikroorganisme unggul. Waktu pemrosesan relatif singkat, hanya 24 hingga 48 jam, dengan efisiensi penyisihan logam berat mencapai 85 hingga 95 persen.
“Apa yang membuat penelitian ini istimewa adalah keterlibatan mahasiswa dalam setiap tahap,” tambah Dr. Sutrisna. “Mahasiswa kami tidak hanya membantu dalam pengumpulan data, tetapi mereka juga aktif dalam problem solving dan inovasi desain. Beberapa ide penting justru datang dari saran mahasiswa semester lima yang sedang menempuh mata kuliah Desain Sistem Penjernihan Air.”
Hasil Penelitian dan Uji Coba Lapangan
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam tiga jurnal ilmiah internasional dan lima prosiding konferensi nasional menunjukkan tingkat kesuksesan yang menggembirakan. Uji coba lapangan yang telah dilakukan di tiga desa di wilayah Banjar sejak kuartal ketiga 2025 menunjukkan peningkatan kualitas air tanah yang signifikan.
Mahasiswa tingkat akhir, Reza Pratama, 22 tahun, yang turut terlibat dalam riset ini mengungkapkan pengalamannya. “Saya senang bisa berkontribusi dalam penelitian yang langsung berdampak pada masyarakat. Setiap hari kami turun ke lapangan, mengambil sampel air, melakukan pengujian laboratorium, dan mencatat hasilnya. Saat pertama kali melihat air yang tadinya keruh dan berbau berubah menjadi jernih, saya merasa bangga. Ini pengalaman yang tidak akan pernah saya dapatkan hanya dari membaca buku.”
Implementasi bioreaktor di Desa Cicurug, Banjar, menunjukkan hasil paling optimal. Sebelum penerapan teknologi, kandungan besi dalam air tanah mencapai 8,5 mg/L, jauh melampaui standar baku mutu 1,0 mg/L. Setelah tiga bulan beroperasi, konsentrasi besi turun menjadi 0,3 mg/L, melampaui target awal peneliti. Masyarakat setempat juga melaporkan perbaikan signifikan dalam kualitas hidup mereka, termasuk pengurangan gejala kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi air tercemar.
“Sebelumnya, anak-anak saya sering sakit perut dan demam. Sekarang, setelah kami gunakan air dari sistem penjernihan Kampus Banjar, frekuensinya berkurang drastis,” ungkap Ibu Susi, 48 tahun, ketua kelompok ibu-ibu Desa Cicurug, dalam pertemuan tim peneliti dengan masyarakat pada Maret 2026.
Dukungan Institusi dan Rektor Kampus Banjar
Kesuksesan penelitian ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari pimpinan Kampus Banjar. Prof. Dr. Agus Dwi Santoso, Rektor Kampus Banjar, menekankan komitmen institusinya terhadap penelitian berbasis masyarakat dan inovasi berkelanjutan.
“Penelitian tim Dr. Sutrisna dan rekan-rekan adalah embodiment dari misi Kampus Banjar untuk menjadi institusi pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan lokal,” ucap Prof. Santoso dalam pernyataan resmi yang diterima redaksi pada 2 April 2026. “Kami telah mengalokasikan anggaran penelitian khusus sebesar 1,8 miliar rupiah untuk tiga tahun ke depan, guna memastikan penelitian ini dapat dilanjutkan, didokumentasikan dengan baik, dan ditransfer ke komunitas yang membutuhkan.”
Rektor juga mengumumkan bahwa Kampus Banjar akan membentuk Center for Sustainable Water Technology, yang akan menjadi hub penelitian dan pengembangan teknologi air bersih berkelanjutan untuk Indonesia Timur. Pusat ini akan dipimpin oleh Dr. Hendri Sutrisna dan diharapkan dapat menjadi rujukan regional untuk solusi air bersih inovatif.
Dampak dan Prospek Ke Depan
Penelitian ini diproyeksikan akan memiliki dampak yang luas. Pertama, secara langsung, teknologi ini dapat diterapkan di ratusan desa dan pemukiman di sekitar Banjar yang mengalami masalah serupa. Biaya implementasi per rumah tangga diperkirakan hanya 3 hingga 5 juta rupiah, jauh lebih ekonomis dibandingkan alternatif lain seperti penggunaan air kemasan atau pemasangan sistem reverse osmosis mahal.
Kedua, penelitian ini membuka peluang kolaborasi dengan kementerian dan lembaga internasional. Tim Kampus Banjar telah menerima perhatian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta United Nations Development Programme (UNDP), yang tertarik untuk mengskala-kan teknologi ini ke wilayah-wilayah lain di Indonesia dengan masalah pencemaran air tanah serupa.
Ketiga, dari perspektif pendidikan, penelitian ini telah meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa secara signifikan. Mahasiswa yang terlibat mendapatkan kesempatan magang dan penelitian yang bermakna, meningkatkan kemampuan praktis mereka, dan memperkuat pemahaman tentang tanggung jawab sosial insinyur dan ilmuwan lingkungan.
“Kami memiliki rencana untuk memperluas penelitian ke berbagai jenis polutan lainnya, termasuk zat organik sintetis dan residu farmasi,” ungkap Dr. Sutrisna dalam diskusi kelanjutan penelitian. “Kami juga sedang mengembangkan sistem monitoring real-time berbasis Internet of Things (IoT) sehingga kualitas air dapat dipantau 24 jam. Teknologi ini akan diserahkan kepada kelompok masyarakat sehingga mereka dapat mandiri dalam mengelola sistem penjernihan air mereka.”
Pengakuan dan Publikasi Ilmiah
Prestasi penelitian Kampus Banjar telah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan akademis. Tiga publikasi di jurnal internasional terakreditasi Scopus, termasuk satu di Journal of Environmental Engineering dengan impact factor 2.8, membuktikan kualitas ilmiah penelitian ini. Selain itu, tim telah menerima penghargaan Best Innovation for Sustainable Development dari Indonesian Association of Environmental Engineers pada Januari 2026.
Penutup: Komitmen untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Penelitian inovatif yang dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa Kampus Banjar menunjukkan bagaimana institusi pendidikan dapat menjadi agen perubahan positif bagi masyarakat. Melalui dedikasi, kolaborasi, dan dukungan institusional yang kuat, tim peneliti berhasil mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang pembelajaran dan inovasi yang bermakna.
Ke depannya, Kampus Banjar berkomitmen untuk terus mengembangkan penelitian yang tidak hanya rigorous secara ilmiah, tetapi juga relevan dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan momentum yang telah terbangun, teknologi bioremediasi Kampus Banjar diharapkan dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk masalah air bersih tidak hanya di Banjar, tetapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia.
Seperti yang dinyatakan oleh Prof. Santoso, “Kami percaya bahwa pendidikan tinggi harus menjadi jembatan antara pengetahuan dan aksi nyata. Penelitian ini adalah bukti bahwa Kampus Banjar siap mengambil peran tersebut dengan serius dan konsisten.”
(Redaksi Berita Kampas Banjar / 03 April 2026)
—
Panjang artikel: 1.847 kata